PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH BIDANG IJTIHAD & MODERNISASI PENDIDIKAN

A.PENDAHULUAN

Abad 21 ini telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan umat manusia. Kalau terdahulu semua aspek kehidupan dikerjakan secara tradisional dan manual, namun hari ini dan hari kemudian semua telah berganti dengan teknologi modern yang semakin canggih. Manusia tidak dapat dipisahkan dengannya, mulai dari bidang kehidupan yang sederhana sampai pada kehidupan yang urgent dan vital.
Kemajuan teknologi ini juga berdampak pada kehidupan beragama masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada posisi ini, islam juga banyak menuai fitnah dan kritik. Para orientalis terus menuding islam sebagai teroris yang harus segera ditindak lanjuti. Selain itu, banyak juga yang menganggap bahwa pemikiran Islam cendrung serba sufisme. Kehidupan umat Islam dianggap sebagai kehidupan yang tidak bisa bersaing dengan Negara barat. Dari sekian fitnah yang dilontarkan tersebut, tidak jarang mengakibatkan umat Islam sendiri cenderung pesemis.
Keadaan masyarakat muslim seperti itu, juga pernah terjadi pada kehidupan yang terdahulu. Pola pikir mereka terkesan kolot dan jumud, sehingga jauh dari kemajuan. Namun setelah sekian lama umat Islam terkukung dalam kehidupan sufisme negative, akhirnya muncul pembaharuan Islam yang mampu mengubah paradigma kaum barat terhadap islam. Salah satu tokoh pembaharu Islam yang patut untuk diteladani pemikiran-pemikirannya ialah Muhammad Abduh.
Beliau adalah seorang pembaharu yang mampu memberikan spirit baru bagi perkembangan dan kemajuan umat Islam. Bahkan pemikiran dan perjuangan beliau, tidak dipungkiri dapat kita rasakan sampai saat ini. Muhammad Abduh merupakan seorang ulama’ dan akademisi yang patut untuk diteladani, baik pemikiran-pemikirannya maupun perjuangannya dalam memajukan islam dari keterpurukan.
Oleh karenya, dalam pembahasan makalah ini akan diuraikan tentang pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, khususnya dalam bidang ijtihad dan modernisasi pendidikan. Selain itu akan dijelaskan pula, bagaimana penerapan pemikirian Muhammad Abduh tersebut terhadap pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Harapannya dengan memahami seluk beluk pemikiran Muhammad Abduh, akan dapat memberikan pencerahan dan wawasan baru dalam memajukan pendidikan dinegeri ini, khususnya ialah pendidikan untuk anak usia dini.

B.BIOGRAFI MUHAMMAD ABDUH
Muhammad Abduh lahir di Mesir tepatnya di desa Mahillah Mesir pada tahun 1849 dan wafat pada tahun 1905. Ayahnya bernama Abduh ibnu Hasan Khairillah yang mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki dan ibunya bernama Junaunah binti Utsman al-Kabir yang merupakan silsilah keturunan dengan Umar bin Khatab. Keduanya adalah seorang petani miskin di desanya. Namun demikian ayahnya dikenal sebagai orang terhormat yang suka member pertolongan. Muhammad Abduh berkata sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab:
“Saya tadinya beranggapan bahwa ayahku adalah manusia termulia di kampong saya. Lebih jauh, beliau saya anggap manusia termulia di dunia ini, karena ketika itu saya mengira bahwa dunia ini tiada lain kecuali kampong Mahallat Nasr. Pada saat itu para pejabat yang berkunjung ke desa Mahallat Nasr lebih sering mendatangi dan menginap di rumah kami dari pada di rumah kepala desa, walaupun kepala desa lebih kaya dan mempunyai banyak rumah dan tanah. Hal ini menimbulkan kesan yang dalam atas diri saya bahwa kehormatan dan ketinggian derajat bukan ditentukan oleh harta atau banyaknya uang. Saya juga menyadari, sejak kecil betapa teguhnya ayahku dalam pendirian dan tekad serta keras dalam perilaku terhadap musuh-musuhnya. Semua itulah, yang saya tiru dan ambil, kecuali kekerasannya”.
Dalam perjalanan mencari ilmu, beliau dikirim ke Tanta untuk belajar bahasa arab, ilmu nahwu, sharaf dan menghafal al-Qur’an. Namun di desa Tanta ini beliau hanya belajar dalam waktu enam bulan kemudian berhenti. Setelah itu, Muhammad Abduh belajar dan berguru kepada pamannya sendiri yaitu Syekh Darwisy Khadr. Dalam sejarah disebutkan bahwa Syekh Darwisy merupakan salah seorang yang membentuk kepribadian Muhammad Abduh.
Setelah belajar pada pamannya, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas al-Azhar Kairo Mesir. Di sana beliau belajar filsafat, logika, sastra arab, dan lain-lain. Semenjak belajar di universitas tersebut, Muhammad Abduh mulai melontarkan kritik-kritik kepada guru-gurunya, buku-buku, dan metode pembelajaran di al-Azhar, sehingga sampai terjadi pergolakan di sana. Beliau pun juga berguru kepada Jamaluddin al-Afgani dan beserta gurunya ini beliau menyusun gerakan yang bernama Urawtul Wusqa. Untuk melancarkan gerakan tersebut diterbitkan sebuah majalah yang berjudul al-Urwatul Wusqa.
Selain itu, sempat pula Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun pada tahun 1882, karena keterlibatannya dalam pemberontakan Urabi Pasya. Kemudian pada tahun 1884, beliau pindah ke Paris, dan bersama al-Afgani menerbitkan sebuah jurnal the firmest bond. Di antara karya Muhammad Abduh yang sangat terkenal yaitu Risalah At-Tauhid (bidang teologi) dan syarah Nahjul-Balaghah (komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib), menerjemahkan kitab karangan Jamaluddin al-Afghani ‘Ar-Raddu ‘Ala Al-Dahriyyin’ (batahan terhadap orang yang tidak mempercayai wujud Tuhan), dan syarah Maqamat Badi’ al-Zaman al-Hamazani (kitab yang menyangkut bahasa dan sastra arab).

C.PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH
Terkait pemikiran Muhammad Abduh, ada dua pokok pemikiran yang dilakukan, guna untuk memajukan umat Islam. Di antara dua fokus pemikiran beliau yaitu:

1.Ijtihad
Menurut bahasa ijtihad berasal dari kata ijtihada yang artinya bersungguh-sungguh, mencurahkan tenaga, menggunakan pikiran, dan bekerja semaksimal mungkin. Sedangkan secara istilah ijtihad ialah suatu usaha sungguh-sungguh mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniah untuk mendapatkan hukum syara’ atau menyusun pendapat dari suatu masalah hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Ada pula yang mengartikan sebagai pencurahan kemampuan mendapatkan hukum syara’ yang bersifat operasional (amali) melalui upaya istinbat (penggalian hukum).
Terkait dengan persoalan ijtihad ini, Muhammad Abduh merupakan seorang tokoh pemikir Islam yang bersifat sangat moderat. Artinya meolak klaim ekstrim bahwa Islam adalah agama yang lengkap yang mengatur semua urusan termasuk politik, tetapi juga menolak kalim ekstrim politik Islam sekuler. Menurut beliau, islam tidak ada kaitannya dengan politik dan menentang pada taqlid buta yang selama ini seudah tersebar dalam kehidupan masyarakat. Pemikiran beliau ini tidak menjebak masyarakat pada jurang purifikas yang ekstrim sebagaimana tokoh-tokoh lain yang hidup pada masanya. Beliau menyampaikan pentingnya akal atau nalar seseorang untuk mencari hikmah yang tersembunyi dalam kitab suci al-Qur’an, walaupun implementasi yang dihasilkan tidak mampu sampai pada makna yang mutlak.
Sayyid Quthb menggambarkan keadaan masyarakat pada masa Muhammad Abduh ialah suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan akal dalam memahami syariat Allah atau meng-isthimbat-kan hukum-hukum, karena mereka telah merasa berkecukupan dengan hasil karya para pendahulu mereka yang juga hidup dalam masa kebekuan akal serta yang berlandaskan kurafat.
Dalam hal ini peran Muhammad Abduh adalah berusaha membebaskan umat Islam dari taqlid dengan berupaya memahami agama langsung dari sumbernya, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Untuk itulah, maka pintu ijtihad harus dibuka selebarnya, demi kemajuan umat Islam di masa yang akan datang. Sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Abduh:
Manusia menghadi peristiwa dan masalah-masalah baru sesuai dengan perubahan zaman yang mana ia tidak tertera dalam buku-buku klasik tersebut. Lalu apakah kita harus berhenti dan terpaku pada apa yang sudah tertuang, sementara dunia berlaju terus? Ini jelas tidak mungkin. Jika kita tidak dapat merumuskan hukum sesuai perkembangan zaman, maka orang-orang awam dan pemerintah pasti ramai-ramai meninggalkan hukum agama dan mengambil hukum lain.

2.Modernisasi Pendidikan
Dalam kamus ilmiah popular disebutkan bahwa modernisasi memiliki arti gerakan untuk merombak cara-cara kehidupan yang baru atau penerapan model-model baru. Modernis adalah orang yang paling cepat tanggap merespon perkembangan yang terjadi dan sekaligus paling cepat diresponi oleh masyarakat sekitarnya.
Bila dikaitkan dengan pendidikan, modernisasi merupakan suatu upaya untuk merubah atau merombak cara pendidikan yang telah ada, diganti dengan yang baru yang dianggap lebih baik dan dapat merubah kondisi pendidikan yang telah ada.
Dalam hal ini, Muhammad Abduh berusaha untuk memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan keislaman (agama). Artinya Muhammad Abduh menghendaki tidak ada pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Keduanya wajib untuk dipelajari demi kemajuan umat Islam.
Muhammad Abduh berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan umat manusia, sebab ilmu pengetahuan merupakan sumber kekuatan untuk menjawab tantangan yang akan datang di era modern. Dalam hal mempelajari ilmu pengetahuan ini, dia menganjurkan agar sikap kesadaran beragama juga perlu ditumbuh kembagkan. Hal ini menunjukkan anatara ilmu agama dan ilmu umum harus berjalan seimbang dan tidak boleh ada dikotomi di anatara keduanya. Oleh karenya, supaya umat Islam mendapatkan ilmu-ilmu pengetahuan umum, mereka harus tergabung pada sekolah-sekolah umum, sebab sekolah-sekolah umum telah menjadi sumber ilmu eksakta. Pendidikan di sekolah formal mampu membangun kesadaran masyarakat yang selama ini terasa sangat jauh dari harapan pendidikan yang sebanrnya.
Selain itu, Muhammad Abduh juga melakukan perbaikan gaya bahasa arab yang sangat bertele-tele yang dipenuhi oleh kaidah-kaidah kebahasaan yang sulit dimengerti, sebagai contoh dalam hal tafsir. Bagi Muhammad Abduh, tafsir harus dapat dimengerti dengan mudah, sehingga dapat menjadi petunjuk, guna untuk meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sesuai dengan fungsi diturunkannya al-Qur’an.
Upaya-upaya pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh menyebabkan terjadinya dua persepsi yang kontradiktif di kalangan murid-muridnya. Sebagian mereka, menganggap bahwa Muhammad Abduh telah mengupayakan kebangkitan kembali dan merekonstruksi pandangan Islam. Sedangkan sebagian lagi, menganggap bahwa Muhammad Abduh melakukan upaya pemisahan antara agama dan negara. Meskipun beliau mendapatkan pertentangan, namun beliat tetap berjuang dan semakin tertantang untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin.

D.USAHA PEMBAHARUAN OLEH MUHAMMAD ABDUH
Dari pemikirannya yang mendalam dan pengetahuannya yang luas, seolah-olah Muhammad Abduh telah membaca ulang dan penyegaran terhadap umat Islam. Hal ini dapat kita amati dari berbagai upaya pembaharuan yang dilakukannya, di antaranya:

1.Bidang Pendidikan
Melalui al-Azhar, Muhammad Abduh mulai merekonstruksi kurikulum, terutama dengan memberikan materi baru, yakni logika dan filsafat. Demikian pula ilmu-ilmu lain, perlu untuk dijadikan perbendaharaan bagi lulusannya yang diharapkan menjadi ulama modern. Karena Menurut Abduh menganggap bahwa pengajaran yang dilakukan kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama terdahulu tanpa mengantarkan mereka kepada usaha penelitian, perbandingan, dan pertajihan.
Selain itu, beliau juga memperhatikan masalah metode pengajaran bahasa arab. Menurut beliau sistem menghafal di luar kepala perlu diganti dengan system penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari.

2.Bidang Agama
Muhammad Abduh menyatakan bahwa kemunduran umat Islam diakibatkan oleh adanya cara berfikir yang beku dan kekakuan di dalam memahami ajaran Islam. Oleh karenanya pendekatan persuasive dilakukan oleh beliau. Muhammad Abduh mengecam adanya praktek-praktek sufi yang menyimpang dan mengklaim bahwa taqlid buta hanya akan menyengsarakan umat Islam. Oleh karena itu, Muhammad Abduh menghendaki pembebasan masyarakat dari taqlid dan membuka kembali pintu ijtihad.

3.Bidang Pemerintahan
Prinsip egaliter dalam bernegara sangat dianjurkan, menurutnya Negara harus membatasi kekuasaan dengan konstitusi. Beliau berusaha untuk memberikan pengertian pada masyarakat bahwa pemimpin yang akan dipilih harus adil dan berwibawa. Di samping itu, rakyat juga harus mampu menjadi leader control terhadap pemimpin yang berlaku sewenang-wenang.
Dalam hal pemerintahan ini, Muhammad Abduh berbeda dengan gurunya Jamaludin al-Afgani yang menghendaki Pan-Islamisme. Akan tetapi beliau lebih ditekankan pada Nasionalisme Arab saja dan lebih memajukan pada bidang pendidikan. Menurut beliau, kesadaran rakyat bernegara dapat disadarkan melalui pendidikan, surat kabar, majalah, dan sebagainya.
Beliau juga merumuskan secara garis besar tentang kewajiban negara dalam mengayomi masyarakat, di antaranya:
a.Negara adalah sebagai tempat untuk mendapatkan penghidupan dan perlindungan.
b.Negara merupakan tempat untuk melaksanakan kewajiban dan menuntut hak.
c.Negara adalah tempat untuk mempertalikan antara rakyat dan penguasa.

E.REKONSTRUKSI TERHADAP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Mengacu pada pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh di atas, khususnya dalam dunia pendidikan, banyak hal yang bisa kita terapkan dalam pendidikan anak usia dini. Di antaranya:
1.Mengajarkan ketauhidan yang benar kepada anak-anak
Sudah menjadi tugas seorang guru untuk mengenalkan peserta didik kepada Allah swt sedini mungkin. Yang mana ketauhidan merupakan benteng utama seorang anak dalam menghadapi kehidupan ini. Hal ini banyak dicontohkan di dalam al-Qur’an, bagaimana Luqman memerintahkan dan mengajarkan kepada putra kesayangannya untuk tidak menyekutukan Allah swt. Tentu saja yang demikian ini merupakan langkah awal untuk mengenalkan anak-anak kepada Tuhan-nya (Allah).
Ketauhidan harus diajarkan dengan benar sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Jangan sampai pengajaran dilakukan tanpa ada dasar, apalagi sampai menyimpang dari sumber ajaran Islam. Dan sebisa mungkin ketauhidan tersebut diajarkan sesuai dengan perkembangan anak.
Untuk metode pengajaran mengenalkan ketauhidan kepada anak, dapat dilakukan dengan berbagai metode yang menyenangkan untuk anak, seperti bernyanyi, bercerita, atau yang lainnya. Intinya apa yang disampaikan kepada anak dapat terserap dengan baik dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2.Mengajarkan ilmu-ilmu umum, selain ilmu agama
Yang kedua yang dapat diambil dari pemikiran Muhammad Abduh ialah menyeimbangkan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Dalam hal ini sekolah maupun guru harus dapat memberikan materi pembelajaran yang menyeluruh. Artinya selain dibekali dengan ilmu-ilmu agama atau ibadah, peserta didik juga harus dibekali dengan ilmu-ilmu umum. Sebab kedua ilmu tersebut sama-sama pentingnya untuk kehidupan ini. Bila antara ilmu agama dengan ilmu umum berjalan dengan seimbang, niscaya peserta didik pun akan dapat menghadapai masa depannya dengan lebih cerah.

F.PENUTUP
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh, paling tidak difokuskan dalam dua hal, yaitu:
1.Ijtihad; menjauhkan manusia dari perbuatan taqlid buta dan membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya, supaya manusia terlepas dari kejumudan dan keterpurukan.
2.Pendidikan; memberikan porsi yang seimbang antara ilmu-ilmu umum dengan ilmu keagamaan. Keduanya merupakan ilmu-ilmu penting yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan ini.
Harapannya pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh dapat memperikan pengaruh positif terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya pada pendidikan anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA
Asmuni, Yusran. 1998. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sani, Abdul. 1998. Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Shihab, Quraish. 1994. Studi Kritis Tafsir Al-Manar; Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha. Bandung: Pustaka Hidayah.
Margono, dkk., 2007. Pendidikan Agama Islam lentera Kehidupan. Jakarta: Yudistira.
Muhaimin, 2000. Pembaharuan Islam. Yogyakarta: Dinamika.
John J. Dorohoe dan John L. Esposito, 1984. Islam dan Pembaharuan Jakarta: Rajawali Press.
Ahmad Amir Aziz, 2009. Pembaharuan Teologi Perspektif Modernisme Muhammad Abduh dan Neo-Modernisme Fazlur Rahman. Yogyakarta: Teras.
Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, 1994. Kamus Ilmiah Populer Surabaya: Arkola.
Nur Cholis Madjid, 2004. Pintu-Pintu Tuhan. Yogyakarta: Paramadina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Komentar Terbaru

ayub di Kata mutiara
aR_eRos di Tiga Amalan Baik

Arsip

%d blogger menyukai ini: