Keutamaan Pendidikan Islami

imagesPendidikan merupakan perkara yang sangat sentral dalam Islam. Banyak isyarat menunjukkan hal ini. Pertama, ayat yang turun pertama kali terkait dengan iqra (bacalah!).

Kedua, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk membacakan ayat-ayat Allah, membentuk jiwa mereka menjadi suci, mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (TQS. Al-Jumu’ah:2).
Ketiga, sepanjang hayatnya beliau terus membina para sahabat. Para sahabat saling membina satu sama lain. Setiap ayat yang turun kepada Nabi, beliau sampaikan dan ajarkan kepada para sahabat.
Keempat, banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Bahkan, banyak sekali pujian bagi orang-orang yang menuntut ilmu.
“Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga” (HR Muslim)

“Jika mati manusia, terputuslah amalnya kecualli tiga hal, shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan dirinya” (HR Muslim)

“Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu, ia berada di jalan Allah hingga kembali” (Attirmidzi)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (TQS. Al-Mujadilah:11).

Keunggulan Pendidikan Islam
Islam adalah agama paripurna. Dalam pendidikan pun, Islam sungguh unggul dan tidak ada yang dapat mengunggulinya. Siapapun yang menelaah sistem pendidikan didalam Islam akan melihat banyak keunggulan. Dibawah ini hanya dijelaskan sebagian dan sekilas.
Pertama, dasarnya adalah akidah islamiyah (iman/al-aqidah al-islamiyyah). Dalam sistem sekuler, pendidikan dipisahkan dari agama. Kalaupun ada, agama hanya diberi porsi dua atau beberapa jam seminggu. Kurikulum pun tidak berbasis keimanan. Akhirnya, materi pelajaran, semangat, dan metode yang dikembangkan jauh dari keimanan. Kering. Tujuannya pun sebatas materi: nilai, gelar, dan mendapatkan pekerjaan. Pendidikan yang materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.
Berbeda dengan itu, Islam menjadikan akidah sebagai landasan didalam pendidikan. Sejak awal, kaum Muslim saat menuntut ilmu baik yang fardlu kifayah maupun fardlu ’ain dasarnya adalah keimanan kepada Allah. Yakni, menuntut ilmu adalah perintah Allah dan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Ilmu yang diajarkan akan menjadi ilmu yang bermanfaat, bukan hanya di dunia, melainkan pahalanya mengalir hingga akhirat. Dari sini saja, baik pendidik maupun peserta didik melakukan proses kegiatan mengajar belajar dengan dorongan iman dan ibadah.
Bukan sekedar itu, pengaruh akidah ini nampak didalam tujuan dan arah pendidikan. Perwujudannya muncul didalam kurikulum dan metode pendidikan. Dengan kata lain, dalam pendidikan Islam, akidah Islam harus menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru serta budaya sekolah yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas.
Kedua, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam dan memberikan keterampilan dalam ilmu kehidupan. Dalam sistem pendidikan sekuler, pendidikan ditujukan hanya sekedar mengejar nilai. Kalaupun disebut berkualitas, tolok ukur kualitasnya adalah keunggulan kemampuan di bidang sains dan teknologi. Tidak mengherankan dalam sistem seperti ini siswa dan orang tua stress menghadapi ujian nasional. Ujian itulah satu-satunya penentu kelulusan. Lagi-lagi, nilai! Tanpa merasa perlu lagi melihat bagaimana kemampuan membaca al-Quran, sikap kepada orang tua dan guru, kerajinan ibadahnya, dll. Anak yang disebut pintar hanyalah anak yang rata-rata nilainya tinggi. Padahal, ada peserta didik yang boleh jadi jeblok dalam seluruh mata pelajaran sains dan teknologi. Tapi, dalam pelajaran hadits dia sangat luar biasa. Jangan-jangan anak tersebut akan menjadi ahli hadits mengikuti jejak Imam Bukhari.
Arah pendidikan Islam berbeda dengan arah pendidikan sekuler. Ada dua hal yang hendak diraih dalam pendidikan Islam. Raihan pertama adalah terbentuknya kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah). Untuk dapat memiliki kepribadian Islam seseorang harus memiliki pola berpikir islami (aqliyyah islamiyyah) dan pola jiwa islami (nafsiyah islamiyyah). Pola berpikir islami dibentuk melalui pengkajian dan pemahaman Islam (dirasah wa fahm). Disinilah peserta didik diberikan kemampuan dasar ilmu-ilmu keislaman seperti al-Quran, bahasa Arab, hadits, Akhlak, dll. Sistem pembelajarannya pun dilakukan sedemikian rupa sehingga peserta didik bukan sekedar hafal melainkan juga mengerti dan paham.
Dengan ’aqliyah islamiyah mereka menilai dan menghukumi segala hal berdasarkan akidah dan syariat Islam. Islam telah menekankan hal ini. Kurang lebih ada 43 ayat didalam al-Quran berbicara tentang berpikir yang didasarkan pada iman kepada Allah SWT. Selain itu, akal yang terkait dengan berpikir itupun dijadikan Islam sebagai standar taklif, bahkan segala hal yang dapat merusak akal diharamkan (kullu mufattirin haramun).
Pernah suatu ketika putera Rasulullah SAW meninggal dunia. Pada saat yang sama terjadilah gerhana. Berita pun tersebar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian tersebut. Menanggapi hal ini, Rasulullah menyatakan, ”Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan merupakan dua tanda diantara banyak tanda kekuasaan Allah, bukan karena hidup atau matinya seseorang”. Sejak awal, Rasulullah mengubah cara berpikir masyarakat Quraisy. Mereka yang tadinya menyembah berhala dan mempertuhankan sesama manusia, berubah menjadi cinta akhirat, tujuannya adalah ridha Allah, dunia hanyalah ladang bagi akhirat, dan hidup hanya untuk menyembah Dia Zat Maha Pencipta. Banyak juga sikap dan perkataan Nabi terkait pentingnya membina cara berpikir ini. Semua ini menegaskan bahwa pendidikan haruslah dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki ’aqliyah islamiyah sehingga berpikir secara islami.
Bukan hanya itu, pendidikan harus melahirkan peserta didik yang memiliki nafsiyah islamiyyah. Mereka akan punya ketakutan pada Allah, kerinduan pada keridlaan dan surga-Nya, ketaatan total terhadap aturannya, cinta dan bencinya karena Allah, dan perilakunya senantiasa terikat dengan hukum-hukum Islam. Hawa nafsunya ditundukkan dengan mengikutu apa-apa yang dibawa oleh Nabi. Beliau menyatakan, ”Tidaklah seseorang diantara kalian beriman hingga ia hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa” (HR. Bukhari). Para sahabat yang dididik oleh Nabi SAW benar-benar menundukkan hawa nafsunya pada aturan Islam. Bahkan, suatu ketika Rasulullah menyatakan kepada Sumayyah bahwa ia harus bersabar menanggung siksaan Quraisy dan balasannya adalah sorga. Ia menyatakan, ”Sungguh, aku melihat sorga itu demikian nyata, wahai Rasulullah”. Pola jiwa islami dibentuk dengan prinsip ’imani dan taati’ (iman wa tha’at). Untuk itu dilakukanlah pembiasaan taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW melalui penerapan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah untuk dilanjutkan di rumah dan lingkungan.
Raihan kedua adalah ilmu kehidupan. Islam tidak mencukupkan pada pembelajaran yang membentuk kepribadian Islam, melainkan juga mengajari ilmu kehidupan. Ilmu kehidupan tersebut mencakup professional skill (keahlian profesional) dengan mengajarkan matematika, IPA, dll. Juga, ilmu kehidupan mencakup life skill (keahlian hidup) dengan mengajarkan kemandirian, kemampuan komunikasi, bekerja sama dalam kelompok, siap memimpin dan dipimpin, dll.
Peserta didik juga diarahkan untuk menjadi orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi pun diberikan. Rasulullah SAW pernah mengirim beberapa sahabat ke Yaman untuk mempelajari dababah, sejenis senjata untuk menembus benteng. Terkait dengan penyilangan kurma, Nabi mengatakan ”Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Berdasarkan sebab turunnya hadits (sabab wurud) jelas bahwa yang dimaksud dengan ’urusan dunia kalian’ adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jadi, peserta didik dibina kepribadian islamnya sekaligus diberi keahlian dalam sains dan teknologi. Dengan demikian, peserta didik bukan hanya pintar dan dapat menyelesaikan persoalan berdasarkan Islam, merekapun akan taat kepada Allah SWT dan memiliki perhatian dan keberpihakan kepada diri sendiri, keluarga, bahkan masyarakat. Fenomena narkoba seperti yang kini marak di kalangan remaja, pelajar dan mahasiswa tidak akan ditemui pada mereka. Peserta didik seperti ini bukan hanya akan menjadi buah hati orang tua, melainkan juga akan menjadi generasi cerdas bertakwa calon pemimpin umat. Mereka paham ilmu agama sekaligus punya keahlian dalam sains dan teknologi.
Ketiga, tolok ukur bukan sekedar nilai. Konsekuensi dari tujuan di atas, penilaian bukan hanya didasarkan pada nilai melainkan juga ketaatan kepada Allah SWT. Disinilah kelulusan ditentukan oleh pendidik/guru yang mengetahui gerak-gerik sehari-hari peserta didik.
Keempat, pendidikan terpadu. Dalam sistem pendidikan saat ini kebanyakan hanya memadukan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Padahal, aspek-aspek tersebut hanya menyelesaikan persoalan individual. Karenanya, perlu dipadukan juga aspek yang terkait materi.
Dilihat dari materi yang diberikan, keterpaduan berarti memadukan antara kepribadian Islam, ilmu keislaman (tsaqofah islamiyah) dan ilmu kehidupan. Orientasi keluaran (output) dari pendidikan Islamnya tercermin dari keseimbang pada ketiga unsurnya, yakni: pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), penguasaan tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan). Bila dalam orientasi keluaran dari pendidikan yang sekuleristik ketiga unsur tersebut terpisah satu sama lain dan diposisikan berbeda dimensi (agama – non agama) dengan proporsi sangat tidak seimbang yang menyebabkan kegagalan pembentukan karakter dan kepribadian siswa selama ini, dalam keterpaduan pendidikan Islam ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Tanggung jawab pembinaan kepribadian Islam peserta didikpun bukan hanya tugas guru agama, melainkan tugas semua guru. Konsekuensinya semua guru harus paham ajaran Islam.
Dalam konteks kekinian perlu ada internalisasi nilai-nilai Islam kedalam mata pelajaran sains. Misalnya, ketika sedang membahas tentang bahan energi (minyak, batu bara, bensin, dll) ditegaskan bahwa itu semua adalah nikmat dari Allah SWT. Perlu juga materi-materi yang bertentangan dengan Islam dikoreksi, misalnya terkait teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil evolusi dari monyet. Kadangkala perlu juga dilakukan tambahan (adisi) terhadap materi yang diperlukan tetapi tidak diberikan. Misalnya, pelajaran akhlak.
Ditinjau dari pelakunya, keterpaduan pendidikan berarti memadukan antara peran guru (sekolah), orang tua, dan lingkungan. Di tengah masyarakat terjadi interaksi antar ketiganya, maka kenegatifan masing-masing itu juga memberikan pengaruh kepada unsur pelaksana pendidikan yang lain. Maksudnya, buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan sebagainya. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut. Karenanya, perlu keterpaduan dan kerjasama antara guru (sekolah), orang tua, dan lingkungan. Komunikasi dan peran serta dari ketiganya perlu searah.
Kelima, biaya dan fasilitas gratis. Negara menjamin terpenuhinya berbagai fasilitas tersebut. Pendidikan gratis untuk semua rakyat. Rasulullah SAW pernah menetapkan kebijakan terhadap para tawanan perang Badar, bahwa para tawanan itu bisa bebas dengan masing-masing mengajari sepuluh orang penduduk Madinah membaca dan menulis. Padahal, tawanan dapat bebas bila memberikan tebusan yang merupakan hak baitul mal. Dengan tindakan demikian berarti Rasulullah menetapkan pendidikan tersebut dibiayai oleh negara (baitul mal).
Pada masa kekhilafahan sekolah tinggi Islam dilengkapi dengan iwan (auditorium, gedung pertemuan), asrama pelajar/mahasiswa, perumahan dosen dan ulama. Juga, sekolah-sekolah itu dilengkapi dengan kamar mandi, dapur, ruang makan, dan taman rekreasi. Diantara sekolah tinggi terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah an-Nashiriyah di Kairo. Madrasah al-Mustanshiriyah, misalnya, didirikan oleh Khalifah al-Mustanir pada abad ke-6 Hijriah. Sekolah ini memiliki auditorium dan perpustakaan yang dipenuhi berbagai buku untuk keperluan belajar mengajar. Sekolah ini juga dilengkapi dengan pemandian dan rumah sakit.
Diantara sekolah yang terkenal juga adalah Madrasah Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah al-Hakim Biamrillah pada tahun 395H. Madrasah ini merupakan institut pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan yang dibuka untuk umum. Perpustakaannya difasilitasi juga dengan ruang studi, ceraman, dan ruang musik untuk refreshing bagi pembaca.
Keenam, fasilitas dan guru diperhatikan. Gaji guru pun dibuat sangat memadai. Nabi berkali menyebutkan, ”muliakanlah orang-orang yang telah memberikan pelajaran padamu (guru)”. Salah satu wujud penghargaan negara kepada guru/dosen adalah masalah gaji. Ad-Dimsyaqy mengisahkan dari al-Wadliyah bin Ataha’ bahwa Umar bin Khathab memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan (1 dinar = 4,25 gram emas). Artinya, 63,75 gram per bulan. Kalau diuangkan saat sekarang (katakan saja 1 gram emas seharga Rp 90.000), gaji mereka sebesar Rp. 5.737.500. Di al-Mustansyiriyah setiap siswa diberi beasiswa satu dinar.

Penutup
Sistem pendidikan seperti ini akan melahirkan para ulama dan ilmuwan yang sekaligus paham Islam. Ini bukan khayalan. Sejarah mencatat pendidikan Islam melahirkan ulama sekaliber Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam al-Ghazali, dll. Dari pendidikan Islam juga lahirlah Yakub al-Kindi (tahun 800-an) sebagai pakar kimia, obat, musik, dan optik sekaligus ahli falsafah; Umar al-Khayyam ahli matematika yang memperbaiki teorinya al-Khawarijmi sekaligus ahli geografi; ath-Thabari sebagai bisnisman dan sarjana geografi sekaligus penulis sejarah Islam yang terkenal; Ibnu Khaldun merupakan ahli sosial, birokrat, sekaligus ahli agama; dsb. Nyatalah, pendidikan Islam melahirkan peserta didik yang menyatukan Islam dengan kehidupan. Dari pendidikan seperti inilah akan lahir pemimpin umat yang cerdas bertakwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Komentar Terbaru

ayub di Kata mutiara
aR_eRos di Tiga Amalan Baik

Arsip

%d blogger menyukai ini: