surga

Syahdan, sufi masyhur itu menyusuri jalan-jalan kota Bagdad yang hiruk-pikuk. Ia menjinjing seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya hendak kemana, ia menjawab enteng: “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air!”  

Konon, Rabiah Adawiyah, sang sufi itu, resah akan tingkat ketulusan manusia dalam beribadah. Mereka hanya ingin meraih surga dan mengelak neraka. Pendeknya, beribadah dengan iming-iming tertentu. Bagi Rabiah, itu sama saja dengan mental para budak. Agar dapat menanam ketulusan, Rabiah tergerak membuang iming-iming yang ia anggap telah menggerus nilai ketulusan. 

Ambisi Rabiah itu kini kontras belaka dengan hasrat para pelaku bom bunuh diri. Lewat “jihad” versi mereka, mereka mengorbankan manusia-manusia yang tak langsung bersalah, demi mendapat surga. Sebuah kontradiksi luar biasa antara Rabiah yang tak berharap apa-apa dan mereka yang langsung terobsesi akan surga, kita telah terpampang nyata.  

Andai Rabiah masih hidup, ia tentu akan lebih paham betapa bahayanya imajinasi akan surga itu. Sebab baginya, tujuan akhir ibadah tak lain agar kelak dapat menatap wajah, mendapat rida dan cinta Sang Terkasih. Prinsip ibadah Rabi’ah adalah cinta, keikhlasan, dan ketulusan hati. Ibadah tanpa imbalan.

Karena itu, dalam sebuah puisi nan romantis, Rabiah bersenandung: Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga/jauhkanlah surga itu dariku/jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka /cemplungkanlah aku ke di kedalamannya.  

Antusiasme ibadah seperti itu, kini disenandungkan oleh seorang dalang wayang Suket ternama kita, Ki Slamet Gundono. Dalam kidung Mabuk Gusti, manusia digambarkan beribadah sampai teler, sehingga ia tak peduli lagi akan imbalan dan ganjaran.  

Ini berlainan lagi dengan obsesi para teroris yang dimabuk surga. Imajinasi akan surga telah menggilakan dan menghilangkan pesona Tuhan yang memberi surga itu sendiri. Andaikan surga benar-benar tidak ada—seperti syair lagu Chrisye dan Dewa (jika surga dan neraka tak pernah ada/masihkah kau sujud kepada-Nya?)—apakah para pemburu surga itu akan juga meneror Tuhan? 

Di sinilah kita perlu mendalami hakikat surga (Arab: jannah). Dalam al-Mu`jam al-Wasîth, kata jannah berpadan makna dengan hadîqah dan bustân. Semuanya punya makna dasar, yaitu kebun. Konon, dalam panorama alam masyarakat Arab yang dipenuhi padang pasir nan tandus dan kering, kebun adalah imajinasi terindah dan sangat diidamkan. 

Surga juga digambarkan seperti griya kenikmatan (dârun na`îm) yang kelak akan dijumpai di akhirat. Di sana ada pepohonan rindang, kuntuman bunga, sungai-sungai, dan lautan madu dan susu yang mengalir tiada henti. Di sana juga tersedia bidadari-bidadari nan cantik-jelita dan senantiasa siap melayan; sebuah gambaran yang sangat material sekaligus membangkitkan gairah. Tapi sungguh mengherankan, banyak juga orang yang mengutuk kenikmatan duniawi demi meraih kenikmatan surgawi. Mereka tidak berpikir bahwa hidup di dunia adalah juga amanah untuk membangun surga yang di sini dan di dunia kini.  

Mereka tampak lebih suka mendekat kepada jinnah (Arab: kegilaan) daripada jannah. Surga juga telah membuat sebagian orang menjadi gila. Membunuh diri sendiri dan orang lain merupakan aktualisasi kegilaan akan surga itu. Kegilaan itu pula yang tampak ampuh mematikan nalar dan nurani mereka. Rasanya, jika ini yang terjadi, saya merasa harus nunut dan mendukung Rabiah untuk membakar surga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Komentar Terbaru

ayub di Kata mutiara
aR_eRos di Tiga Amalan Baik

Arsip

%d blogger menyukai ini: